Selasa, 11 November 2025

Pembelajaran Interaktif dan Menyenangkan dengan Teknologi Augmented Reality

Dalam rangka mengenalkan pembelajaran agama Islam secara lebih menarik dan interaktif, peserta didik diajak untuk membuat proyek AR 3D bertema “Lafadz Niat Wudhu” menggunakan platform Assemblr EDU. Melalui proyek ini, siswa tidak hanya belajar membaca dan menghafal lafadz niat wudhu, tetapi juga memahami maknanya dengan cara yang kreatif dan menyenangkan melalui teknologi Augmented Reality.

Proyek ini diawali dengan penjelasan tentang pentingnya niat dalam setiap ibadah, termasuk wudhu sebagai syarat sah salat. Setelah itu, siswa diperkenalkan pada dasar penggunaan aplikasi Assemblr Studio Web, mulai dari membuat objek 3D, menambahkan teks lafadz niat, hingga menyusun elemen visual seperti karakter muslim dan bangunan masjid. Aktivitas ini membantu siswa memvisualisasikan konsep spiritual dalam bentuk nyata di ruang digital.

Melalui pembelajaran berbasis proyek ini, peserta didik tidak hanya mengembangkan keterampilan literasi agama, tetapi juga literasi digital dan kreativitas visual. Mereka belajar bagaimana teknologi dapat menjadi sarana positif untuk memperkuat pemahaman keagamaan. Dengan melihat objek 3D niat wudhu secara langsung di layar maupun menggunakan mode AR, siswa dapat merasakan pengalaman belajar yang imersif dan berkesan.


Proyek “Lafadz Niat Wudhu” ini juga mendorong kolaborasi antar siswa dalam mendesain tampilan, memilih warna, dan menata komposisi agar hasilnya menarik dan informatif. Hasil akhir karya siswa kemudian dipresentasikan dan dibagikan secara publik di platform Assemblr World, sehingga bisa diakses oleh teman-teman lain dan masyarakat luas sebagai media dakwah digital.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran agama dapat dikemas secara modern tanpa kehilangan nilai-nilai spiritualnya. Melalui inovasi ini, diharapkan peserta didik semakin mencintai ilmu agama sekaligus siap menghadapi era digital. Seperti yang diungkapkan oleh pembimbing proyek, “Belajar agama kini bisa menyenangkan, penuh warna, dan dekat dengan dunia anak-anak.”

Link Proyek : https://asblr.com/72pRwd

Senin, 10 November 2025

Proyek LKPD “Family Tree” – Belajar Kosakata Keluarga dengan Teknologi AR

Pembelajaran Bahasa Inggris kini dapat dilakukan dengan cara yang lebih menyenangkan dan interaktif. Melalui proyek LKPD Family Tree, siswa diajak untuk mempelajari kosakata tentang anggota keluarga (family members) sekaligus mengenal hubungan kekerabatan dalam bentuk visual dan digital. Kegiatan ini dirancang menggunakan platform Assemblr EDU, yang memungkinkan siswa untuk melihat dan memahami silsilah keluarga secara tiga dimensi (3D) melalui teknologi Augmented Reality (AR).

Proyek diawali dengan pengenalan kosakata dasar seperti father, mother, sister, brother, grandmother, grandfather, uncle, aunt, dan cousin. Setelah itu, siswa diajak untuk mengamati bagan Family Tree yang terdapat dalam LKPD, kemudian melengkapi kalimat sesuai hubungan antaranggota keluarga yang ditampilkan. Kegiatan ini membantu siswa memahami konsep hubungan keluarga secara nyata sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Pada tahap selanjutnya, siswa berkreasi di Assemblr EDU dengan membuat model 3D Family Tree versi mereka sendiri. Mereka menambahkan karakter keluarga, memberi label pada setiap tokoh, serta melengkapi dengan musik latar untuk membuat proyek lebih menarik. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga mengasah kreativitas, literasi digital, dan kemampuan berpikir logis dalam menghubungkan hubungan antaranggota keluarga.

Hasil proyek kemudian dibagikan dalam bentuk LKPD interaktif yang dapat dipindai melalui QR code. Siswa maupun guru dapat menampilkan proyek tersebut secara langsung menggunakan perangkat seluler, sehingga pembelajaran menjadi lebih hidup dan kontekstual. Suasana kelas pun menjadi lebih antusias karena siswa dapat berinteraksi langsung dengan hasil karya digital mereka.

Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta didik tidak hanya mampu memahami kosakata keluarga dalam Bahasa Inggris, tetapi juga menyadari pentingnya peran teknologi dalam proses belajar. Proyek Family Tree menjadi contoh konkret bagaimana pembelajaran abad ke-21 dapat dikemas dengan kreatif, kolaboratif, dan berbasis teknologi digital, sesuai dengan semangat Merdeka Belajar.

Proyek AR “Bunga Matahari” – Pembelajaran Interaktif dengan Teknologi 3D

Dalam upaya menghadirkan pembelajaran yang kreatif dan bermakna, siswa diajak membuat proyek interaktif bertema “Bunga Matahari” menggunakan platform Assemblr EDU. Melalui kegiatan ini, peserta didik tidak hanya mengenal bagian-bagian bunga secara teoritis, tetapi juga dapat melihat dan mempelajarinya secara tiga dimensi (3D) dalam tampilan augmented reality (AR).

Proyek ini dimulai dengan pengenalan struktur bunga matahari yang terdiri atas beberapa bagian utama, yaitu putik, benang sari, mahkota, kelopak, tangkai, dan daun. Setiap bagian diberi label dan penjelasan fungsi secara visual agar siswa mudah memahami peran masing-masing dalam proses pertumbuhan dan reproduksi tumbuhan. Dengan teknologi AR, siswa dapat memutar model bunga, memperbesar tampilan, serta mengamati struktur bunga secara detail layaknya di dunia nyata.

Selanjutnya, siswa berlatih membuat model digital bunga matahari di editor Assemblr EDU, dimulai dari mengunggah objek 3D hingga menambahkan teks label penjelas pada setiap bagian bunga. Dalam tahap ini, siswa dilatih untuk berpikir kritis, teliti, dan kreatif. Mereka juga belajar tentang pentingnya visualisasi digital dalam pembelajaran sains dan lingkungan.


Link Proyek : https://asblr.com/jZNbnI

Hasil akhir dari proyek ini adalah model interaktif “Proyek Bunga Matahari” yang bisa diakses melalui kode marker atau tautan publik. Siswa dan guru dapat menampilkan hasilnya di kelas atau melalui perangkat seluler, sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik, modern, dan berorientasi pada teknologi masa kini.

Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta didik semakin termotivasi untuk belajar biologi dan sains dengan pendekatan yang lebih imersif. Proyek ini juga menunjukkan bagaimana pembelajaran berbasis teknologi AR dapat menumbuhkan kreativitas dan literasi digital di kalangan siswa sejak dini. Dengan demikian, teknologi bukan hanya alat bantu, tetapi juga jembatan menuju pengalaman belajar yang lebih bermakna dan menyenangkan.

Jumat, 07 November 2025

Pendampingan ACE Pemula Malam ke-1 Langkah Awal Menjadi Educator Imersif Bersertifikat

Malam Kamis, 7 November 2025 menjadi awal perjalanan pembelajaran yang inspiratif bagi para pendidik yang tergabung dalam program Pendampingan Assemblr Certified Educator (ACE) Pemula. Kegiatan ini merupakan sesi perdana dari rangkaian pendampingan khusus bagi para ACE baru (Unranked) yang ingin mengembangkan kemampuan pembelajaran imersif berbasis teknologi melalui platform Assemblr EDU.

Kegiatan pendampingan ini menghadirkan Suherman, S.Pd.I, seorang Assemblr Certified Educator Level 8 (Wizard) sekaligus Assemblr Certified Trainer Level 1, sebagai keynote speaker. Dalam sesi perdananya, beliau membagikan banyak pengalaman dan wawasan tentang bagaimana seorang pendidik dapat memanfaatkan teknologi augmented reality untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menarik, interaktif, dan kontekstual.

Peserta tampak antusias mengikuti arahan dan panduan yang diberikan. Tidak hanya diperkenalkan pada dasar-dasar penggunaan Assemblr EDU, mereka juga diajak memahami esensi dari peran seorang ACE, yaitu sebagai penggerak literasi digital di lingkungan pendidikan. Suherman menegaskan bahwa menjadi ACE bukan hanya tentang mendapatkan sertifikat, tetapi juga tentang membangun komunitas belajar yang kolaboratif dan saling menginspirasi antarpendidik.

Program pendampingan ini dirancang dalam empat kali pertemuan, yang berlangsung setiap hari Jumat malam pada tanggal 7, 14, 21, dan 28 November 2025, pukul 19.30–20.30 WIB. Setiap sesi akan berfokus pada tahapan penguasaan fitur, praktik pembuatan konten imersif, hingga strategi implementasi dalam pembelajaran nyata di kelas.

Salah satu peserta yang saya undang, Ibu Rini, menyampaikan kesannya setelah mengikuti sesi pertama. “Pendampingan ini benar-benar membuka wawasan saya. Selama ini saya hanya mendengar tentang Assemblr EDU, tapi lewat kegiatan ini saya jadi tahu cara memanfaatkannya untuk membuat media belajar yang lebih hidup dan menyenangkan bagi siswa.”

Sebagai penutup sesi perdana, Suherman memberikan motivasi kepada seluruh peserta untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi pendidikan. “Kita tidak bisa menunggu perubahan, tapi harus menjadi bagian dari perubahan itu sendiri,” ungkapnya penuh semangat.

Kegiatan pendampingan ini bukan sekadar ajang pelatihan teknis, melainkan ruang belajar bersama untuk menumbuhkan semangat transformasi digital di kalangan pendidik. Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan semakin banyak guru yang mampu berinovasi, berkolaborasi, dan menciptakan pembelajaran yang lebih imersif dan bermakna. Mari terus bergerak maju, menjadi pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi perubahan melalui teknologi dan kreativitas.

ACT Meetup Batch 1 - Kolaborasi Inspiratif Bersama Trainer Assemblr EDU

Pada hari Jumat, 7 November 2025, telah dilaksanakan kegiatan ACT Meetup Batch 1 yang diselenggarakan oleh Assemblr EDU. Kegiatan ini dipandu langsung oleh dua trainer inspiratif, Pak Deden Nugraha dan Pak Azka, yang merupakan Assemblr Certified Trainer (ACT). Acara ini digelar secara daring melalui Zoom Meeting dan dihadiri oleh para trainer dari berbagai daerah di Indonesia dengan penuh antusiasme dan semangat kolaboratif.

Kegiatan ACT Meetup Batch 1 ini menjadi wadah penting bagi para Assemblr Certified Trainer untuk saling berbagi pengalaman, berdiskusi, serta memperkuat jejaring antar trainer di seluruh Indonesia. Dalam sesi pembuka, Pak Azka menyampaikan pesan pembuka yang menggugah semangat peserta. Ia menegaskan bahwa peran trainer bukan sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan penggerak perubahan di dunia pendidikan.

“Menjadi ACT bukan hanya tentang bisa menggunakan Assemblr, tetapi tentang bagaimana kita menularkan semangat inovasi kepada guru-guru lain agar pembelajaran di kelas menjadi lebih bermakna dan menyenangkan,” ujar Pak Azka dengan penuh semangat.


Selain sesi berbagi dan diskusi, acara ini juga menjadi momentum istimewa karena diumumkannya penghargaan ACT of The Month untuk periode Oktober. Penghargaan ini diberikan kepada tiga trainer yang berhasil menunjukkan dedikasi luar biasa dalam kegiatan pengimbasan Assemblr EDU. Mereka adalah Tri Goesema Putra S, M.Pd. dari Riau dengan 70 peserta, Siti Zubaidah, M.Pd. dari Jawa Timur dengan 19 peserta, dan Jumiati, S.Pd., M.Pd. dari Kalimantan Timur dengan 50 peserta. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas semangat mereka dalam menyebarkan pemanfaatan teknologi Augmented Reality (AR) dalam dunia pendidikan.

Dalam sesi refleksi dan arahan, Pak Deden Nugraha menyampaikan rasa bangga terhadap semangat para trainer yang terus aktif berbagi dan menginspirasi rekan pendidik lainnya. Beliau juga mengingatkan pentingnya konsistensi dalam berkarya dan menjaga semangat kolaboratif antar ACT di seluruh Indonesia.

“Kekuatan kita ada pada komunitas. Selama kita saling berbagi, saling belajar, dan saling mendukung, program ini tidak hanya akan berkembang, tapi akan berdampak besar pada dunia pendidikan Indonesia,” ungkap Pak Deden Nugraha.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan penayangan video apresiasi yang penuh semangat. Para peserta juga diingatkan untuk mengisi absensi dan dapat membuat sertifikat peserta secara mandiri melalui tautan yang telah disediakan. Melalui kegiatan ACT Meetup Batch 1 ini, para trainer diharapkan semakin termotivasi untuk terus berinovasi, berbagi inspirasi, serta memperluas dampak positif pembelajaran berbasis teknologi di lingkungan pendidikan masing-masing.
Sebagaimana disampaikan dalam penutup oleh tim Assemblr EDU, kegiatan seperti ini akan menjadi langkah berkelanjutan dalam membangun ekosistem edukasi digital yang kolaboratif dan berdampak nyata.

“Mari terus manfaatkan teknologi bukan hanya untuk mengajar, tapi juga untuk membuka peluang baru bagi masa depan pendidikan Indonesia yang lebih kreatif dan inklusif.”

Refleksi dan Harapan

Perubahan besar dalam dunia pendidikan tidak terjadi dalam semalam, tetapi tumbuh dari langkah-langkah kecil para pendidik yang mau beradaptasi dan berbagi. Kegiatan seperti ACT Meetup menjadi bukti bahwa kolaborasi dan semangat belajar bersama dapat melahirkan gerakan pendidikan yang progresif. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, guru tidak lagi hanya menjadi pengajar, tetapi juga pembelajar sepanjang hayat yang senantiasa bereksperimen dengan berbagai inovasi digital.

Melalui komunitas Assemblr Certified Trainer, semangat gotong royong digital ini terus dijaga. Mari kita jadikan momentum ini sebagai pengingat bahwa dunia pendidikan memerlukan kolaborasi lintas wilayah, lintas generasi, dan lintas teknologi. Bersama-sama, para pendidik Indonesia dapat menciptakan ruang belajar yang adaptif, kreatif, dan berdaya guna — menuju pendidikan masa depan yang berkarakter, berbasis teknologi, dan berjiwa kolaboratif.