Jumat, 06 Februari 2026

Ayo Kita Kenali Budaya dan Perkembangan Remaja LKPD Interaktif 3D dan AR

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ribuan suku dan adat istiadat memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, termasuk berbagai tradisi unik untuk menyambut fase penting dalam kehidupan manusia: masa remaja atau kedewasaan. Merupakan aktivitas mengamati upacara atau tradisi unik untuk memperingati seorang anak yang memasuki fase remaja atau kedewasaan, seringkali bersamaan dengan tanda-tanda pubertas (seperti menstruasi pertama bagi perempuan atau perubahan fisik mencolok bagi laki-laki), LKPD ini mengajak siswa untuk menjelajahi keragaman tersebut secara langsung dan menyenangkan. Dirancang untuk siswa SMP, lembar kerja ini menggabungkan elemen konvensional seperti tabel pengisian dengan teknologi Augmented Reality (AR), sehingga siswa tidak hanya membaca, tapi juga "melihat" dan mengamati model 3D tradisi adat melalui scan QR code di lembar kerja.

LKPD dimulai dengan pengenalan yang menarik: Di setiap daerah Indonesia, transisi dari anak-anak ke remaja sering dirayakan dengan upacara adat yang sarat makna. Pubertas sebagai tanda biologis—seperti haid pertama bagi perempuan atau perubahan suara serta tumbuh rambut pada laki-laki—dijadikan momen sakral untuk memberikan pendidikan nilai, tanggung jawab, dan identitas sosial. Siswa diajak memahami bahwa tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan cara masyarakat menjaga harmoni budaya, mengajarkan kemandirian, serta menghormati leluhur. Ilustrasi berwarna cerah dengan tokoh-tokoh adat dari berbagai suku—seperti penari Bali, pemuda Dayak, atau gadis Bugis—membuat halaman awal terasa hidup dan mengundang rasa ingin tahu.

Tugas utama dalam LKPD ini adalah mengamati dan mencatat minimal tiga (bahkan hingga enam) upacara adat terkait perkembangan remaja. Siswa diminta memindai QR code untuk mengakses penjelasan materi interaktif via AR, di mana model 3D muncul menampilkan simulasi upacara seperti prosesi, pakaian adat, atau elemen simbolis. Beberapa contoh tradisi yang bisa dieksplorasi meliputi: Metatah (kikir gigi) dari Bali, yang menandai transisi remaja Hindu dengan mengikis gigi untuk mengendalikan nafsu buruk; Fahombo (lompat batu) dari Nias, ujian kedewasaan bagi pemuda untuk membuktikan keberanian; Posuo dari suku Buton, persiapan spiritual gadis remaja menuju pernikahan; serta tradisi sunat massal atau khitan di berbagai daerah yang disertai pesta sebagai tanda akil balig. Siswa mengisi tabel dengan nama upacara, asal daerah, tanda perkembangan yang menjadi dasar (seperti pubertas), serta keterangan singkat tentang makna dan pelaksanaannya.

Keunggulan LKPD ini terletak pada pendekatan interaktifnya yang memadukan pembelajaran budaya dengan teknologi modern. Dengan AR dari Assemblr EDU, siswa bisa melihat animasi 3D seperti proses kikir gigi di Bali atau lompat batu di Nias secara virtual, membuat pengalaman belajar lebih mendalam dan mudah diingat. Aktivitas ini tidak hanya melatih kemampuan observasi dan pencatatan, tapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap keberagaman Indonesia serta pemahaman bahwa setiap tradisi memiliki nilai pendidikan, seperti tanggung jawab sosial, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap leluhur. Cocok untuk pembelajaran mandiri, kelompok, atau proyek kelas, LKPD ini juga mendukung Kurikulum Merdeka dengan fokus pada Profil Pelajar Pancasila, khususnya gotong royong dan berkebhinekaan global.

Akhirnya, LKPD "Ayo Kita Kenali Budaya dan Perkembangan Remaja" ini menjadi jembatan antara generasi muda dengan warisan leluhur, mengingatkan bahwa perkembangan remaja bukan hanya soal fisik, tapi juga spiritual dan budaya. Dengan deskripsi yang menekankan pengamatan tradisi unik seputar pubertas, lembar kerja ini diharapkan meningkatkan apresiasi siswa terhadap kekayaan adat Indonesia. Guru dan orang tua bisa mencetak LKPD ini dari platform Assemblr EDU, lalu mengintegrasikannya dalam pelajaran PPKn, Seni Budaya, atau PAI. Mari jadikan pembelajaran budaya lebih hidup dan interaktif—coba gunakan LKPD ini di kelas dan bagikan cerita siswa Anda

0 komentar: